KH. WAHID HASYIM: TOKOH PEMBARU PENDIDIKAN ISLAM DAN PEJUANG KEMERDEKAAN

Written by:  -Lailia Fitriani Tim Redaksi LPM IPMA IAI Al-Khoziny

Profil Singkat

Nama Lengkap: KH. Abdul Wahid Hasyim

Lahir: Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – 5 Rabi’ul Awal 1333 H (Jumat Legi)

Wafat: Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 (kecelakaan mobil)

Ayah: Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU & Pesantren Tebuireng)

Ibu: Nyai Nafiqah binti KH. Ilyas (Pendiri Pesantren Sewulan)

Anak: 6 orang, salah satunya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4

Gelar: Pahlawan Nasional (Kepres No. 206 Tahun 1964) 

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari KH. Hasyim Asy’ari yang dikenal memiliki pemikiran visioner dan modern sejak usia muda. Pada tahun 1935, di usianya yang ke 21 tahun, ia membuat gebrakan yang ditentang banyak kiai saat itu. Di Pesantren Tebuireng, ia melakukan pembaharuan dengan memasukkan pelajaran umum dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum pesantren yang sebelumnya hanya mengajarkan ilmu agama tradisional.

Awalnya usulan ini ditolak oleh ayahandanya, KH. Hasyim Asy’ari selaku pemangku Pesantren Tebuireng kala itu. Namun, setelah menimbang beberapa alasan dari putranya itu, akhirnya Kiai Hasyim berkenan dan menerima usulannya. Ia pun mendirikan Madrasah Nidzamiyah, Pesantren dengan sistem klasikal (berkelas) bukan sorogan, yang mengajarkan Bahasa Inggris, Belanda, dan Arab dengan sistem tutorial modern. Pada tahun 1936, ia juga mendirikan komunitas Ikatan Pelajar Islam sebagai wadah intelektual santri. Baginya, santri tidak boleh hanya alim agama, tapi harus menguasai ilmu umum agar tidak tertinggal.

Di kancah nasional, Wahid Hasyim aktif dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), ikut serta merumuskan Piagam Jakarta serta Pancasila. Pasca-kemerdekaan, beliau diangkat menjadi Menteri Agama Republik Indonesia (1949–1952). Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Agama mulai ditata secara sistemil, termasuk pembangunan pendidikan agama di sekolah-sekolah umum dan pendirian perguruan tinggi Islam negeri yang menjadi cikal bakal UIN. Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang 1951, ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, dan di bawahnya NU keluar dari Masyumi menjadi partai sendiri pada 5 April 1952.

KH. Wahid Hasyim wafat dalam kecelakaan mobil di Cimahi pada 19 April 1953 saat dalam perjalanan tugas. Jenazahnya dimakamkan di komplek Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia meninggalkan karya tulis seperti Nabi Muhammad dan Persaudaraan Manusia, Kebangkitan Dunia Islam, dan Islam Agama Fitrah. Ia membuktikan bahwa Islam tradisional pesantren bisa berdialog dengan modernitas. Tanpa Wahid Hasyim, tidak ada Madrasah seperti sekarang, tidak ada Kementerian Agama, dan mungkin tidak ada rumusan Pancasila yang inklusif.

Scroll to Top