Gubug Dialektika PMII Rayon Syariah Al-Khoziny: Mengkaji Plato Republic Buku VI, Filsuf dan Gagasan Kepemimpinan yang Bijaksana

Written by: Nur Hidayati – Tim Redaksi LPM IPMA IAI Al-Khoziny

Sidoarjo — PMII Rayon Syariah Al-Khoziny mengangkat pemikiran filsafat Plato melalui forum diskusi bertajuk Gubug Dialektika: Plato Republic ke VI. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, pukul 20.30 WIB di halaman kampus Institut Agama Islam Al-Khoziny ini menghadirkan Sahabat Yunus sebagai narasumber dan Sahabat Aris sebagai moderator.

Forum ini mengangkat pemikiran Plato dalam karya Republic Buku VI yang membahas hubungan antara filsafat, kebenaran, keadilan, dan kepemimpinan. Pemikiran tersebut menjadi menarik untuk dikaji, terutama dalam melihat bagaimana seorang pemimpin seharusnya menggunakan pengetahuan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Salah satu gagasan utama Plato dalam Buku VI adalah konsep Philosopher King atau filsuf-raja. Plato berpendapat bahwa seorang filsuf memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana karena kecintaannya terhadap pengetahuan dan kebenaran.

Bagi Plato, kepemimpinan tidak seharusnya hanya didasarkan pada kekuasaan, popularitas, ataupun kepentingan pribadi. Seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan berpikir mendalam, memahami kebaikan, serta mempertimbangkan keadilan dalam setiap keputusan yang diambil.

Pemikiran ini juga menegaskan bahwa persoalan dalam sebuah negara tidak cukup diselesaikan hanya dengan pergantian pemimpin. Diperlukan pemimpin yang memiliki kebijaksanaan dan menjadikan kebaikan bersama sebagai dasar dalam menjalankan kekuasaan.

Dalam konteks kehidupan saat ini, gagasan tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa, khususnya kader PMII, untuk melihat kembali kualitas kepemimpinan di lingkungan organisasi, kampus, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam Republic Buku VI, Plato juga menjelaskan gagasan tentang Ide Kebaikan (Form of the Good) melalui analogi matahari. Sebagaimana matahari memungkinkan mata melihat objek dengan jelas, Ide Kebaikan memungkinkan akal memahami kebenaran dan pengetahuan.

Melalui pemikiran ini, Plato membedakan antara orang yang hanya berpegang pada opini dan penampilan luar dengan orang yang berusaha memahami hakikat sesuatu melalui pengetahuan dan pemikiran filosofis.

Scroll to Top