
Written by : Arini Dwi Indah Nurfita – Tim Redaksi LPM IPMA IAI Al-Khoziny
Bagi orang-orang yang lahir di era Neo-Jakarta tahun 2145, malam tidak pernah benar-benar gelap. Langit selalu berpendar oleh jutaan piksel iklan holografik raksasa, dan udara dihirup melalui masker nano-filtrasi beraroma mint artifisial. Zain Blambangan, seorang insinyur pemeliharaan memori digital, mengira ia mengenal setiap sudut dunia. Hingga sebuah insiden “glitch,” di ruang server sentral membawanya jatuh ke dalam celah anomali data.
Ketika kesadarannya kembali, tidak ada lagi dengung mesin “quantum-core,” atau kilatan cahaya neon biru. Yang ada hanyalah suara jangkrik yang bersahut-sahutan di keheningan malam dan aroma tanah basah sehabis hujan.
Zain mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya. Ia berdiri di sebuah beranda rumah kayu berarsitektur Jawa kuno. Di depannya, hamparan sawah membentang luas, memantulkan cahaya bulan purnama yang begitu jernih tanpa terhalang kabut polusi. Tidak ada satelit terbang di langit, yang terlihat hanya gugusan bintang yang bertaburan alami, bagai debu berlian di atas kain hitam pekat.
“Zen, ayo masuk. Angin malam tidak baik untuk kesehatan,” panggil sesosok wanita paruh baya dari balik pintu kayu berukir. Wajahnya tersenyum hangat, mengenakan kebaya sederhana berona luruh.
Zain terpaku. Berdasarkan arsip digital dunia asalnya, model rumah seperti ini hanya bisa ditemukan di museum virtual generasi kelima. Ini bukan proyeksi hologram. Udara yang ia hirup terasa nyata dan dingin, lembap, dan dipenuhi wangi jerami serta kayu bakar.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, sebuah lampu *petromak* berbahan bakar minyak memancarkan cahaya kuning temaram, menari-nari di dinding kayu yang mulai dimakan usia. Tidak ada layar interaktif, tidak ada *neural-link*, yang ada hanya sebuah radio tabung tua di sudut ruangan yang tengah menyiarkan alunan kroncong pelan dengan suara berkeresek khas.
Zain duduk di atas tikar pandan. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Di masa depan, kulit manusia dilapisi mikroskopis nano-shield pelindung radiasi. Namun, di sini, kulitnya terasa begitu rapuh, membumi, dan manusiawi.
Malam itu, di bawah atap yang meneteskan kedamaian masa lalu, Arka menyadari satu hal yang hilang dari dunianya, waktu yang berjalan dengan jujur.
Di masa depan, setiap detik dihitung, dioptimalkan, dan dipacu oleh kecepatan algoritma. Namun di sini, waktu terasa melambat, mengalir bagai air sungai yang tenang. Tanpa sihir, tanpa teknologi canggih, ia telah melompat ratusan tahun ke belakang, bukan untuk menyelamatkan dunia, melainkan untuk belajar kembali bagaimana cara bernapas, merasakan hangatnya api pelita, dan mendengarkan detak jantungnya sendiri di tengah keheningan bumi yang sejati.