KEMBALI PULANG

Written by: Lu’luil Maknun – Tim Redaksi LPM IPMA IAI Al-Khoziny

Ruangan berbau obat-obatan itu lenggang. Padahal ada dua manusia di dalamnya. Seorang gadis yang terbaring di atas brankar dan wanita paruh baya berjilbab lebar yang duduk disampingnya. 

Gadis itu meneguk ludah kasar. “Apa kata dokter bu?” Tanyanya lirih. 

Sang ibu menghela napas. Seakan tak sanggup menjawab pertanyaan putrinya. “Dokter minta kamu dirawat secara intensif, Ai. Takut stadiumnya meningkat. Apalagi kondisimu lagi ndak stabil”. Tuturnya lembut. 

Gadis yang dipanggil Ai itu menutup mata. Mencoba menetralkan sesak yang menghimpit dadanya. Sudah tiga hari gadis itu dirawat di rumah sakit. Diagnosa dokter menyatakan dirinya menderita Leukimia stadium 1. Walau masih awal, imun Ai yang lemah membuat gadis itu rawan sekali drop. “Tapi bu… Ai harus kejar target bulan ini. Masih ada juz yang belum Ai lancarkan”. Keluhnya. Ia menggigit bibir bawahnya sejenak. Kemudian melanjutkan kalimatnya. “Takut… nggak sampai umur” pungkasnya lirih. 

Kalimat terakhir Ai mengejutkan sang ibu. “Ssstt! Jangan ngomong gitu nduk! Kamu pasti sembuh. Kita ijtihad dulu ya?” Tutur sang ibu sembari mengusap lembut tangan Ai. 

“Ya… Ai cuma takut aja bu. Umur nggak ada yang tau”. Ujar Ai. Gadis itu mendudukkan tubuhnya. Menggenggam tangan ibunya. “Tapi Ai bener-bener pengen khatam bulan ini bu. Ai janji setelah itu Ai bakal nurut buat berobat. Ai mohon bu… kali ini aja…”. Pinta Ai penuh harap. Air matanya menetes tanpa permisi. Sebenarnya Ai tak ingin menangis. Itu akan membuat ibunya semakin khawatir. Tapi perjuangannya menghafalkan Al-Qur’an mati-matian di sebuah pondok pesantren selama beberapa tahun itu hampir selesai. Ia tak ingin memutusnya begitu saja. Karena sudah lama Ai menunggu saat itu. Melihat tekad yang kuat di mata sayu putrinya membuat sang ibu mau tak mau menganggukkan kepalanya. 

“Ibu ngomong dulu ke dokter ya? Nanti biar tau enaknya gimana, kamu sabar ya?”. Kedua mata Ai berbinar. Ia mengangguk. Spontan memeluk ibunya. “Ainur Rochmah, anakku… terima kasih sudah berjuang sejauh ini”. Batin sang ibu di sela tangisnya.

***

Seminggu kemudian. Ainur diperbolehkan pulang oleh dokter dengan berbagai syarat. Ia pun kembali ke pesantren tempatnya menimba ilmu tuk melanjutkan hafalan Al-Qur’annya. Tubuhnya yang semakin kurus dan wajahnya yang pucat sempat mengundang kecurigaan teman-temannya. Tak jarang ada yang bertanya sakit apa yang diderita gadis itu. Namun Ainur yang dikenal pendiam hanya menjawab seadanya tak ingin orang-orang tau yang sebenarnya. Ainur kini sedang duduk di aula. Memuroja’ah hafalan yang baru ia perbaiki agar tidak hilang kembali. 

“Mbak Ai”. Atensi Ai teralihkan mendengar namanya dipanggil. Seorang gadis menghampirinya, kemudian duduk di sebelahnya. “Simak’an yuk! mbak pulangnya lama banget. Aku jadi kebingungan cari teman simak’an”. Celetuknya sembari membuka-buka Al-Qur’an kecil miliknya. 

Ai hanya tersenyum. “besok aja ya Ra.. badan aku capek banget kalo sekarang. Aku denger kamu udah naik juz ya Ra? Selamat ya! Maaf banget nggak bisa nyimak kamu waktu itu”. 

Amira, Adik kelas Ainur sekaligus teman simak’annya beberapa bulan terakhir. Mira sudah menganggap Ainur seperti kakaknya sendiri. Pada Ainur, Mira suka bercerita dan berkeluh kesah. Karena Ainur selalu punya jawaban dan mendengarkan dengan baik. Ainur juga selalu memberi Mira semangat ketika jenuh melanda saat menghafal Al-Qur’an. 

“Ra”. Panggil Ainur. Mira menoleh. “besok-besok kalau nggak ada aku, kamu tetep simak’an ya? Cari temen simak’an lain. Sekarang kamu harus mandiri. Tetep semangat! Aku yakin kamu pasti bisa Ra”. Ujar Ainur panjang lebar. 

Mira mendecak kesal. “Ck! Mbak Ai mentang-mentang mau khatam ngomongnya kayak gitu. Emangnya mbak Ai mau kemana?”. Tanya Mira. 

“Aku mau pulang lagi. Mau berobat”. Jawab Ainur singkat. Dahi Ainur berkerut. 

“Mbak masih sakit? Gitu kok maksa balik sih?”. Protes Mira. Ainur terkekeh. “Nanggung Ra… kurang dikit”. Jawabnya. 

“Mbak Ai keren ya… semangat terus sampe akhir. Aku juga pengen kayak mbak. Tapi ya gimana? Masih males-malesan. Hehehe”. Celetuk Mira. 

Ainur hanya menggeleng. “Nggak seperti yang kamu lihat Ra. Aku juga pernah ada di fase kayak kamu. Tapi itu semua balik ke dirimu sendiri. Semangat itu bukan dari siapa-siapa. Tapi dari diri kamu sendiri”. Ainur kemudian menyentuh bahu Mira. “Inget ya Ra… di dunia ini nggak ada yang bisa kamu miliki seutuhnya. Semua orang datang dan pergi tanpa bisa kamu cegah. Kalau itu terjadi, jangan disesali ya Ra? Semuanya milik Allah. Yang abadi cuma di akhirat. Oke Ra?”. Tuturnya panjang lebar. 

Mira meneguk ludah kasar. Entah mengapa nasihat Ainur terasa lebih dalam dari biasanya. “Mbak Ai ngomongnya dalem banget. Aku jadi takut”. 

Ainur tertawa renyah. “Udah jangan dipikir. Nanti juga kamu tau sendiri. Aku duluan ya Ra? Ngantuk”. Pamit Ainur. Ia berdiri. Meninggalkan Mira dengan berjuta pertanyaan di kepalanya.

END

Scroll to Top