
Written by: Moch Yunus Ali – Tim Redaksi LPM IPMA IAI Al-Khoziny
Tulisan ini ditujukan kepada para ateis secara khusus, juga kaum materialis umumnya.
Pada tulisan ini, saya akan menjawab beberapa syubhat yang seringkali diajukan oleh tokoh ateis kepada teisme. Dan saya bisa pastikan, rata-rata paham ateisme itu timbul dari ideologi materialisme. Oleh karena itu, tidak sah rasanya jika membahas ateisme tanpa menyenggol materialisme.
Materialisme yang memandang bahwa hanya materi/fisik satu-satunya realitas yang bisa dibuktikan secara empiris, merupakan dasar epistemologis bagi paham ateisme itu sendiri. Karena Tuhan pada umumnya dianggap entitas non-materi (metafisika), kaum materialis (khususnya materialisme dialektis; penganut Marxis) secara otomatis menolak adanya Tuhan.
Melalui teori kausalitas (sebab-akibat), para tokoh ateis berasumsi bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta memiliki sebab yang hanya terbatas pada materi/fisik dan alamiah, dimana suatu peristiwa (sebab) menimbulkan peristiwa lain (akibat). Contohnya dalam menentukan asal usul alam semesta yang bermula dari big bang (ledakan dahsyat) dan teori evolusi biologis (seleksi alam dan variasi genetik) sebagai asal usul kehidupan secara alamiah. Maka, untuk menciptakan alam semesta ini mereka tidak membutuhkan perancang yang disebut dengan Tuhan.
Padahal, dengan konsep sebab-akibat justru Tuhan itu seharusnya ada. Jika sebab-akibat tak berpangkal dan tak berujung (para teolog Muslim menyebutnya tasalsul) dalam penciptaan alam ataupun asal usul kehidupan, maka tatanan alam seakan-akan absurd. Sebab, dari rangkaian sebab-akibat harus ada penyebab pertama yang tidak menjadi akibat. Dan sebab pertama itu yang dikenal dengan Tuhan pemegang otoritas tertinggi secara absolut atas alam. Penalaran ini dalam ilmu filsafat disebut logika atau argumen kosmologis; menyimpulkan eksistensi Tuhan sebagai sebab pertama dan tidak disebabkan, berdasarkan bukti empiris berupa adanya alam semesta yang terbatas dan memiliki permulaan.
5 abad silam, Imam as-Sanusi (teolog Muslim perumus sifat 20) telah merumuskan eksistensi Tuhan dalam kitabnya Ummul Barahin. Bukti paling konkrit dan rasional tentang eksistensi Tuhan adalah alam semesta ini. Tatanan alam yang begitu rumit namun tetap terstruktur dan kompleks menuntut adanya entitas Tuhan.
Selain itu, ateis juga sering menanyakan problem of evil (masalah kejahatan). Mereka familiar dengan tiga gugatan yang dirancang untuk mengelabuhi lawan mereka sehingga orang yang ditanya berada dalam dilema. Tiga pertanyaan yang dikenal sebagai trilemma epicurus itu adalah: 1. Jika Tuhan tidak bisa mencegah kejahatan, maka Dia tidak Mahakuasa (omnipotent), 2. Jika Tuhan tidak mau mencegah kejahatan, maka Dia tidak Maha Baik